Berikut adalah pilar-pilar stabilitas yang dijaga oleh PGRI untuk para pendidik:
1. Stabilitas Psikologis dan Emosional
Tekanan kerja dan ekspektasi publik yang tinggi sering kali membuat guru merasa rentan. PGRI berperan meredam tekanan tersebut:
Ruang Aspirasi: Dengan adanya wadah untuk bersuara, tekanan batin akibat kebijakan yang tidak realistis tidak tersumbat, melainkan tersalurkan menjadi rekomendasi organisasi ke tingkat pusat.
2. Stabilitas Hukum dan Keamanan Kerja
Ketakutan akan kriminalisasi adalah musuh utama stabilitas mengajar. PGRI memberikan kepastian:
MoU dengan Polri: Kerja sama strategis ini memastikan masalah di sekolah diselesaikan melalui jalur mediasi dan kode etik terlebih dahulu, bukan langsung ke ranah pidana.
3. Stabilitas Ekonomi dan Status Kepegawaian
Fokus guru akan terbagi jika kebutuhan dasar mereka tidak terpenuhi. PGRI menjaga stabilitas ini melalui:
4. Stabilitas Kompetensi di Tengah Disrupsi
Perubahan teknologi bisa menciptakan kegoncangan profesional (merasa tidak relevan). PGRI menstabilkan transisi ini:
Literasi Tanpa Panik: Melalui SLCC, PGRI membimbing guru beradaptasi dengan teknologi (seperti AI) secara bertahap dan terorganisir.
Kesinambungan Belajar: Menjamin bahwa perpindahan kurikulum tidak membuat guru kehilangan arah, melainkan menjadikannya sebagai proses belajar yang didampingi oleh organisasi.
Tabel: Bagaimana PGRI Menciptakan Stabilitas
| Dimensi | Kondisi Tanpa Stabilitas | Peran Penyeimbang PGRI |
| Hukum | Guru takut mendisiplinkan siswa. | Memberikan perlindungan hukum (LKBH). |
| Ekonomi | Guru terpaksa mencari sampingan berlebih. | Memperjuangkan tunjangan dan gaji layak. |
| Kebijakan | Guru bingung dengan gonta-ganti aturan. | Memberikan masukan agar aturan membumi. |
| Teknologi | Guru merasa terancam digantikan mesin. | Menguatkan peran guru sebagai pendidik moral. |
Kesimpulan:
Stabilitas guru adalah stabilitas bangsa. Jika guru merasa aman, tenang, dan dihargai, maka kualitas pengajaran akan terjaga. PGRI memastikan bahwa guru bukan “korban perubahan”, melainkan “nakhoda” yang tetap stabil meski badai transformasi melanda dunia pendidikan.