PGRI dan Stabilitas Guru

Dalam ekosistem pendidikan yang sering kali diguncang oleh perubahan kurikulum, tuntutan digitalisasi, dan dinamika sosial, PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) hadir sebagai jangkar stabilitas. PGRI memastikan bahwa meskipun dunia pendidikan di luar sana penuh gejolak, kondisi internal guru—baik secara mental, hukum, maupun ekonomi—tetap berada dalam titik keseimbangan.

Berikut adalah pilar-pilar stabilitas yang dijaga oleh PGRI untuk para pendidik:


1. Stabilitas Psikologis dan Emosional

Tekanan kerja dan ekspektasi publik yang tinggi sering kali membuat guru merasa rentan. PGRI berperan meredam tekanan tersebut:

2. Stabilitas Hukum dan Keamanan Kerja

Ketakutan akan kriminalisasi adalah musuh utama stabilitas mengajar. PGRI memberikan kepastian:


3. Stabilitas Ekonomi dan Status Kepegawaian

Fokus guru akan terbagi jika kebutuhan dasar mereka tidak terpenuhi. PGRI menjaga stabilitas ini melalui:

4. Stabilitas Kompetensi di Tengah Disrupsi

Perubahan teknologi bisa menciptakan kegoncangan profesional (merasa tidak relevan). PGRI menstabilkan transisi ini:

  • Literasi Tanpa Panik: Melalui SLCC, PGRI membimbing guru beradaptasi dengan teknologi (seperti AI) secara bertahap dan terorganisir.

  • Kesinambungan Belajar: Menjamin bahwa perpindahan kurikulum tidak membuat guru kehilangan arah, melainkan menjadikannya sebagai proses belajar yang didampingi oleh organisasi.


Tabel: Bagaimana PGRI Menciptakan Stabilitas

DimensiKondisi Tanpa StabilitasPeran Penyeimbang PGRI
HukumGuru takut mendisiplinkan siswa.Memberikan perlindungan hukum (LKBH).
EkonomiGuru terpaksa mencari sampingan berlebih.Memperjuangkan tunjangan dan gaji layak.
KebijakanGuru bingung dengan gonta-ganti aturan.Memberikan masukan agar aturan membumi.
TeknologiGuru merasa terancam digantikan mesin.Menguatkan peran guru sebagai pendidik moral.

Kesimpulan:

Stabilitas guru adalah stabilitas bangsa. Jika guru merasa aman, tenang, dan dihargai, maka kualitas pengajaran akan terjaga. PGRI memastikan bahwa guru bukan “korban perubahan”, melainkan “nakhoda” yang tetap stabil meski badai transformasi melanda dunia pendidikan.

Créditos:

ss

Compartir: